Pertama kali kenal anak ini di workshop fashion, dan entah beruntung atau sial, jalur pulang kita searah.

Akhirnya setiap hari pulang bareng dan inilah awal dari segala bareng: malam takbiran bareng, tahun baruan bareng, makan bareng, mandi bareng, bokek bareng, traveling bareng, hura-hura bareng, alhamdulillah laki ga pernah bareng, cuma pernah tikung-tikungan aja. :p

Insya allah wisuda kita juga bareng ya, Desi Ratnasari.

Seneng deh akhirnya jadi sarjana. Ada bokap yang lagi senyum di atas sana ya, nyet. :”)

Selamat naik ke tahap hidup yang lebih susah, nyet. Ditunggu makan-makannya. 😘

View on Path

Iklan

Reklusif

Usual Storyline

Orang yang tak suka bersosialisasi dengan sesamanya, para penyendiri, sering dilabel sebagai kurang sehat mentalnya, sakit psikis kronik, yang dekat dengan kebiasaan depresif dan potensial mendorong aksi bunuh diri. Namun, gaya hidup reklusif ala rahib sebenarnya tak selalu seperti yang dilabelkan, dan bukan pula karena merasa takut atau traumatik dengan kerumunan sosial, bisa jadi mereka hanya enggan berpura- pura bahagia bergaul, dan mengalami kebosanan dengan interaksi sosial sesama manusia, yang seringkali sarat dengan manipulasi perilaku dan sarat intrik halus, basa basi hanya demi agar bisa diterima dalam sebuah lingkaran pergaulan.

Taruhlah dalam sebuah wilayah perkampungan di pinggiran kota, dengan jumlah penduduk 20 orang, berapa kali peluang terjadi kontak komunikasi pertemuan antar sesama penduduk yang berbeda, dan tidak terjadi perulangan, dalam satu satuan waktu, misal perhari? Peluangnya ( 20.19)/2 atau ( 20!)/ 2( (20-2)!), yaitu 190 kali kontak, dan peluangnya akan semakin bertambah, dengan meningkatkan angka kepadatan penduduk, di sebuah kawasan…

Lihat pos aslinya 1.018 kata lagi

“We Get The Leader We Deserve”

The Laughing Phoenix

Dulu gw pernah baca sebuah quote:

“In a democracy, people get the leader they deserve”

(terj.: dalam sebuah demokrasi, rakyat mendapatkan pemimpin yang memang layak bagi mereka). Karena dalam negara demokrasi, pemimpin dipilih oleh rakyat (dengan asumsi pemilu bersih dan fair). Mungkin kalo bisa gw rephrase, quote tadi bisa dibaca:

“In a democracy, the elected leader reflects the people”

Jadi kalo pemimpin katro yang terpilih, ya memang rakyatnya pantesnya dapet yang seperti itu. Kalo yang terpilih adalah pemimpin cerdas dan bijak, itulah cerminan rakyat pemilihnya. Kalo yang terpilih culas dan buas, itu juga cerminan rakyat pemilihnya.

Gw inget waktu George W. Bush terpilih untuk kedua kalinya menjadi presiden AS (secara tipis), banyak yang kecewa (mengingat periode W. Bush sebelumnya yang dianggap mengecewakan, sampai menginvasi Irak). Dan banyak orang yang komentarnya sama: “Kok bisa bego banget sih orang Amerika?” Bahkan media Inggris Daily Mirror membuat cover “How can…

Lihat pos aslinya 1.005 kata lagi

Safe Travels by Devina.

Buku ini manis, menyenangkan dan sempat bikin Armantono curhat ke saya, “Mit, anak ini bagus, tapi kenapa baru keliatan sekarang?” Hahahaha.

Satu hari menyelesaikan buku ini. Buku tentang cinta, tentang mereka yang gelisah di usia 20-an. Tema yang sudah ada, tapi utak-atiknya yang menarik dan jadi tidak membosankan. Buku yang, menurut saya, punya nilai pasar yang baik. Di beberapa titik, masih ada yang perlu sentuhan lagi, tapi itu tugas editor. :p

Jiwa cenayang sih bilang buku ini berkesempatan untuk punya banyak penggemar.

Selamat ya, Devina. Ditunggu buku selanjutnya. 🙂 – with devina

View on Path

untuk disimpan dan dibaca kembali

Tadi pagi, seseorang berkata begini, “Di hidup ini, orang diberikan rejeki yang berbeda. Ada yang hidupnya dilimpahi harta materi, ada yang diberi kecerdasan, ada yang melahirkan anak-anak, ada juga yang dikelilingi orang-orang baik yang begitu sayang sama kamu. Mungkin saat ini kamu belum atau tidak memiliki anak, tapi ingat… kamu punya yang lainnya.”

 

Kepada P / To P

BW

Kepada P
dan kebun-kebun anggur
yang ia kirim kepadaku gambar-gambarnya
yang maya cahaya-cahayanya

Kepada P
dan racauannya yang harus kutunggu
diantarkan lewat gelombang
dari sejauh-jauhnya seberang

Kepada P
yang judul lagu-lagunya masih tampak
dari sisa celah jendela
sebelah foto yang tak pernah diganti

Aku minta maaf

Menemukanmu waktu itu
rasanya seperti jatuh ke angkasa
yang tidak seorang pun tahu batasnya
atau caranya menentang gravitasi

Apa kabar?

Karena kita tidak pernah bicara lagi
namun setiap selesai tulisanku
tentang Roma dan seisinya
aku selalu berhenti

DSC_0152

——

To P
and his grape farm
of which he sent me pictures
along with the imaginary sun lights

To P
and his grumble to wait for
to be delivered by the wave
from across, the farthest

To P
whose song list appears sometimes
on the window
beside the photo that’s never been changed

I’m sorry

Finding you that time
was like falling to the sky
with…

Lihat pos aslinya 27 kata lagi

Kenapa menulis? Kenapa tidak yang lain?

Karena aku ingin memberitahu apa yang ada di dalam pikiran tanpa memaksa.

Karena aku ingin berbagi, yang ketika kubagi artinya tak berkurang. Apa yang kutahu kini kamu juga tahu. Pengetahuan beranak pinak, membelah diri, mengkalikan diri. Menjadi dua, empat, delapan, puluhan, ratusan, tak terhingga.

Karena aku ingin meninggalkan sesuatu. Ketika tanah tak lagi kutapak, tetapi kekal sebuah jejak. Menulis akan membuat seseorang di masa depan tahu sesuatu, sesuatu yang kupikirkan di saat sekarang.

View on Path