cermin

tenang dan sederhana.

bukan seperti kembang api yang melesat lalu meledak membinarkan mata.

ia menyelinap mencari tempat yang sunyi dan berbahagia di dalamnya.

ada keheningan yang menyenangkan

dalam kehidupannya yang sebenarnya aku tak tahu apa.

padahal mungkin ia sedang bergumul dengan pikirannya.

beradu, berjuang, bersikeras, berlari terengah-engah.

tapi aku toh tak perlu tahu

seperti apa gelombang besar yang meluru pikirnya.

karena bukan itu intinya.

pada hidup seperti ini

seringkali yang paling berarti

ialah yang tak menuntut perhatian sama sekali

Dulu Aku Menyebutnya

Selalu tiba tepat waktu.

Ketika aku melihatmu berubah.

Menjadi yang asing.

Pelan. Merambat. Merayap.

Menyelimuti seluruhnya.

Sebelum akhirnya kau menghilang.

Menjadi sesuatu yang baru.

Yang aku tak tahu.

Teman, dulu aku menyebutnya seperti itu.

Selalu tiba tepat waktu.

Ketika aku pun melihat diriku berubah.

Menjadi asing.

Menjadi yang kau tak tahu.

Nanti, di waktu yang tepat lainnya.

Kita bertemu lagi.

Mengenal kembali yang tidak kita tahu satu sama lain.

Selagi segalanya berjalan tepat pada waktunya,

Kutitipkan satu pesan ini:

Selamat bersenang-senang.

Selesai Di Ujung Jemari

Aku sakit berturut-turut.

Pertama kali kutemukan penyakitku dalam keranjang sampah, bentuknya kecil-kecil dan menggeliat pelan. Pelan, sampai kepalaku pening.

Lantas kutenggelamkan kepala ke dalam toilet. Rasanya semua yang ada di dalam tubuhku berontak ingin keluar dan masuk ke dalam saluran yang… enggan kubayangkan isinya. Tenggorokan terdesak oleh pasukan yang marah. Mata dan hidungku basah. Aku berteriak pada lubang toilet.

Gemetar. Lonjakan dalam perutku mereda, berganti lutut yang lemas. Kuseret telapak kaki keluar dari kamar mandi, sambil memegang perut yang baru saja kumarahi.

Ini baru permulaannya saja.

Keesokan harinya, tubuhku bergelung seperti lintah hampir mati yang dicucuk tembakau. Nafas tinggal satu-satu, mata sayu, bibir membiru. Semua begitu berbeda dengan kemarin, karena hari ini tak ada yang berontak. Satu-satunya yang bisa kuandalkan saat itu hanyalah kepala yang masih bisa mengingat di mana letak air putih, sweater tebal, dan sendal jepit.

Semenit kemudian, aku sudah duduk di ruangan putih yang sepi. Dalam ruangan kotak itu, hanya ada beberapa bentuk kotak yang kuingat: papan dilarang merokok, jam dinding, dan televisi menyala tak bersuara. Sisanya hanya kursi-kursi yang semuanya sudah terisi.

Barangkali banyak sekali yang hampir mati seperti aku ini. Untuk menemui dokter saja harus mengantri. Sambil menyelipkan telapak tangan pada ketiak, aku mendengus. Kubayangkan seorang anak kecil berpipi merah jambu berlari-lari. Merah jambu jadi ungu, ungu jadi biru. Lalu dia berhenti lari-lari, memilih duduk di sebelahku, ikut mengantri.

Nomor yang tertera pada selembar kertas kecil yang kugenggam ini masih jauh dari panggilan. Satu pasien yang masuk ke dalam ruang vonis itu, nantinya akan keluar setelah berpuluh-puluh menit. Lama sekali. Padahal sebenarnya dokter akan memberikan resep yang kurang lebih tidak jauh berbeda, nasihat yang berulang-ulang, dan ucapan semoga lekas sembuh yang membosankan.

Tapi kita semua tetap datang padanya.

Tepat ketika kepalaku terantuk tembok belakang kursi, seorang suster keluar dan memanggil namaku. Akhirnya. Langkahku merepet ke dalam ruang dokter, ruangan yang hampir sama seperti ruang tunggu, hanya saja ada tempat tidur panjang dan keras.

“Ayo, tiduran dulu di situ.”

Prosedur yang kuhafal dalam adegan-adegan drama, dokter akan memasang alat pada telinganya dan menempelkan bagian lain dari alat itu ke dada saya. Alat itu dingin. Wajah dokter itu juga dingin.

Dingin yang menjalar dari ujung jemari hingga daun telinga.

Aku tak ingat apa-apa lagi.

Gelap.

dibuang sayang. sayang kok dibuang?

Bila saya bisa bertanya padamu yang bungkam sejak seminggu lalu, saya ingin sekali bertanya kenapa. Ingin sekali kutanyakan dengan cara memekik, menekanmu, menyakitimu, membuatmu tahu bagaimana tersiksanya sebuah kata ‘KENAPA’ yang merundung dalam kepala.

Jarak tempatmu duduk denganku hanya sekepalan tangan. Lutut kita hampir bertemu karena begitu dekatnya. Kau dengan begitu tenangnya, diam sambil menatap mataku. Kusesalkan wajah tanpa ekspresi itu. Aku tak bisa menerka apa yang hidup di dalam kepalamu, yang berkeliaran di dalam sana. Makhluk macam apa yang mengemudi di dalam sel-sel otakmu, membuatmu kaku dan diam bagai mayat.

“Kenapa?” pertanyaan itulah yang akhirnya terlontar dari bibirku setelah kita saling diam pada dua jam pertama. Padahal telah kuhadirkan amarah sejak langkah pertama meninggalkan pintu rumah, yang semakin besar seperti bola salju yang menggelinding.

Begitu tiba di hadapanmu, aku mencair.

Aku benci reaksimu yang tetap sama. Hanya sekali kutangkap sudut matamu bergerak, sedikit. Sisanya kau kembali mematung.

“Tolong, Mario.” Tenggorokanku tercekat, “Kenapa?”

Kau masih diam. Kini bukan hanya amarahku yang mencair, benteng pertahananku sebagai seorang perempuan runtuh. Bahuku mulai gemetar. Seperti ada gemuruh yang bergerak di dalam dada, aku terisak.

Di titik itulah, semenjak kau lihat aku berubah menjadi seorang perempuan lemah, kau mengambil kedua tanganku. Lutut kita kini beradu. Kau menghela nafas panjang dan dengan lembut –kelembutan yang juga kubenci- kau berkata, “Kenapa tidak?”

Aku terperangah. Kenapa tidak, jawabmu?

Mario, seminggu kupendam pertanyaan itu, dengan berbagai pertimbangan, dengan berbagai usaha memahamimu demi agar pertanyaan itu tak perlu kulemparkan padamu dan kini, kau jawab dengan luar biasa sempurna: Kenapa tidak?

Sisa tenaga yang nyaris tak ada, membangkitkanku dari kursi. Berdiri begitu tiba-tiba hingga kursi terjengkang menimbulkan bunyi gaduh. Kau kembali mematung. Ingin sekali kuludahi kepalamu, sungguh.

“Aku tidak peduli dengan tubuhku, asal kau tahu. Tubuh ini hanya tempat bersemayam, untuk bisa melihatmu. Kusesalkan, Mario, caramu memandang hubungan kita. Terakhir kali kita bertemu, yang kuingat betul, kau bilang bahwa kau takut kehilangan teman – kehilangan aku! Berkali-kali sudah kau bilang kau bertemu dan berpisah dengan teman yang tak lagi sejalan. Kusesalkan, Mario, kau meninggalkan aku begitu saja tanpa penjelasan apa-apa. Beginikah caramu yang takut kehilangan teman? Bukankah kau yang menghilangkan diri sendiri?”

Mario menatap satu titik di ujung sepatunya. Aku tahu dia mendengarkan, tapi aku tak tahan. Aku menarik bajunya, mengguncang-guncangnya dengan terisak. “Jawab. Jangan seperti tuli dan bisu!”

Tenagaku habis sudah. Bahuku berhenti berguncang. Air mataku mengering. Setelah seminggu terakhir, baru ini tubuhku terasa dua kali lipat tak berdaya. Kusambar tas di atas meja dan sebelum meninggalkan ruangan, kudekati dia.

“Ada yang pernah kutaruh di sini,” ujung jemariku menunjuk dadanya, “mungkin rusak sekarang, hilang, atau bisa jadi tak kau sadari sama sekali keberadaannya.” Aku mendengus, “Yang kutaruh di sana punya nama, Mario. Kau sebut saja rasa percaya.”

Aku berjalan meninggalkannya. Punggungku semakin menjauh dari tempat kami duduk. Lewat pantulan pintu kaca, tepat sebelum kudorong pintu itu, kulihat ia masih duduk di sana, menutup seluruh wajahnya dengan kedua belah tangannya.

Nature of Social Science

Usual Storyline

Social science is more difficult subject than Natural science or Math, because it observes the human as object, and the object participant has it’s own individual and collective consciousness, a complex relation, it’s a dynamic living system.

Human societies are complicated systems involving a vast numbers of variables, for which one is unable to write any sensible equations.

Accurate thinking to observe human society interaction is more challenging than any other object, outside human species. It will need accurate thinking to avoid perceptive bias and logical fallacy, especially if the observer is the one who must judge an important case among human, such as financial auditor, private investigator, or a judge.

For a theory of natural science, until we’ ve examined the entire universe, over all of space and time, we can’t really say beyond a shadow of a doubt that there isn’t some contradiction out there, that’s the problem…

Lihat pos aslinya 291 kata lagi

Perjalanan Menemukan Kehilangan

“Pada sesuatu, aku pernah merasa begitu yakin, begitu tahu, begitu dekat. Namun tiba-tiba, keraguan itu lahir. Merayap. Mendekat. 

Segala hal yang pada awalnya begitu lekat, kini melepaskan diri. Aku tak lagi yakin pada apapun. Mendadak kusadari sesuatu: aku tak tahu apa-apa,” katamu pada suatu siang. 

Kemudian ia memelukmu dari belakang, “Saat ini kau sedang berjalan. Perjalananmu, menemukan kehilangan, telah terjadi. Kelak, yang kau genggam erat-erat akan menolak untuk kau jerat. Kau akan kehilangan lagi. Tak apa-apa. Setelah kehilangan, kau akan meneruskan perjalanan, bersama rasa yang baru – yang berulang. Kau mengerti?” 

Mendengar penjelasannya, kamu berbalik. Menatap matanya. “Sekarang ini,” suaramu lirih memelan, “Aku sedang kehilanganmu, bukan?” 

Dia hanya tersenyum.
Senyum yang menjawab pertanyaanmu.

INFINITE

Kepada Hidup,

H i d u p

yang membuat marah,

yang membuat angkuh,

yang membuat rekah,

yang membuat jatuh,

yang membuat malu,

yang membuat putus asa,

yang membuat bertengkar,

yang membuat dialog,

….pada diri sendiri.

 

Kepada Hidup,

H i d u p

Kuucapkan kata

Terima kasih, yang tak terbatas oleh aksara.

 

 

 

Cikini, 2 September 2014

-P-