Selesai Di Ujung Jemari

Aku sakit berturut-turut.

Pertama kali kutemukan penyakitku dalam keranjang sampah, bentuknya kecil-kecil dan menggeliat pelan. Pelan, sampai kepalaku pening.

Lantas kutenggelamkan kepala ke dalam toilet. Rasanya semua yang ada di dalam tubuhku berontak ingin keluar dan masuk ke dalam saluran yang… enggan kubayangkan isinya. Tenggorokan terdesak oleh pasukan yang marah. Mata dan hidungku basah. Aku berteriak pada lubang toilet.

Gemetar. Lonjakan dalam perutku mereda, berganti lutut yang lemas. Kuseret telapak kaki keluar dari kamar mandi, sambil memegang perut yang baru saja kumarahi.

Ini baru permulaannya saja.

Keesokan harinya, tubuhku bergelung seperti lintah hampir mati yang dicucuk tembakau. Nafas tinggal satu-satu, mata sayu, bibir membiru. Semua begitu berbeda dengan kemarin, karena hari ini tak ada yang berontak. Satu-satunya yang bisa kuandalkan saat itu hanyalah kepala yang masih bisa mengingat di mana letak air putih, sweater tebal, dan sendal jepit.

Semenit kemudian, aku sudah duduk di ruangan putih yang sepi. Dalam ruangan kotak itu, hanya ada beberapa bentuk kotak yang kuingat: papan dilarang merokok, jam dinding, dan televisi menyala tak bersuara. Sisanya hanya kursi-kursi yang semuanya sudah terisi.

Barangkali banyak sekali yang hampir mati seperti aku ini. Untuk menemui dokter saja harus mengantri. Sambil menyelipkan telapak tangan pada ketiak, aku mendengus. Kubayangkan seorang anak kecil berpipi merah jambu berlari-lari. Merah jambu jadi ungu, ungu jadi biru. Lalu dia berhenti lari-lari, memilih duduk di sebelahku, ikut mengantri.

Nomor yang tertera pada selembar kertas kecil yang kugenggam ini masih jauh dari panggilan. Satu pasien yang masuk ke dalam ruang vonis itu, nantinya akan keluar setelah berpuluh-puluh menit. Lama sekali. Padahal sebenarnya dokter akan memberikan resep yang kurang lebih tidak jauh berbeda, nasihat yang berulang-ulang, dan ucapan semoga lekas sembuh yang membosankan.

Tapi kita semua tetap datang padanya.

Tepat ketika kepalaku terantuk tembok belakang kursi, seorang suster keluar dan memanggil namaku. Akhirnya. Langkahku merepet ke dalam ruang dokter, ruangan yang hampir sama seperti ruang tunggu, hanya saja ada tempat tidur panjang dan keras.

“Ayo, tiduran dulu di situ.”

Prosedur yang kuhafal dalam adegan-adegan drama, dokter akan memasang alat pada telinganya dan menempelkan bagian lain dari alat itu ke dada saya. Alat itu dingin. Wajah dokter itu juga dingin.

Dingin yang menjalar dari ujung jemari hingga daun telinga.

Aku tak ingat apa-apa lagi.

Gelap.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s