dibuang sayang. sayang kok dibuang?

Bila saya bisa bertanya padamu yang bungkam sejak seminggu lalu, saya ingin sekali bertanya kenapa. Ingin sekali kutanyakan dengan cara memekik, menekanmu, menyakitimu, membuatmu tahu bagaimana tersiksanya sebuah kata ‘KENAPA’ yang merundung dalam kepala.

Jarak tempatmu duduk denganku hanya sekepalan tangan. Lutut kita hampir bertemu karena begitu dekatnya. Kau dengan begitu tenangnya, diam sambil menatap mataku. Kusesalkan wajah tanpa ekspresi itu. Aku tak bisa menerka apa yang hidup di dalam kepalamu, yang berkeliaran di dalam sana. Makhluk macam apa yang mengemudi di dalam sel-sel otakmu, membuatmu kaku dan diam bagai mayat.

“Kenapa?” pertanyaan itulah yang akhirnya terlontar dari bibirku setelah kita saling diam pada dua jam pertama. Padahal telah kuhadirkan amarah sejak langkah pertama meninggalkan pintu rumah, yang semakin besar seperti bola salju yang menggelinding.

Begitu tiba di hadapanmu, aku mencair.

Aku benci reaksimu yang tetap sama. Hanya sekali kutangkap sudut matamu bergerak, sedikit. Sisanya kau kembali mematung.

“Tolong, Mario.” Tenggorokanku tercekat, “Kenapa?”

Kau masih diam. Kini bukan hanya amarahku yang mencair, benteng pertahananku sebagai seorang perempuan runtuh. Bahuku mulai gemetar. Seperti ada gemuruh yang bergerak di dalam dada, aku terisak.

Di titik itulah, semenjak kau lihat aku berubah menjadi seorang perempuan lemah, kau mengambil kedua tanganku. Lutut kita kini beradu. Kau menghela nafas panjang dan dengan lembut –kelembutan yang juga kubenci- kau berkata, “Kenapa tidak?”

Aku terperangah. Kenapa tidak, jawabmu?

Mario, seminggu kupendam pertanyaan itu, dengan berbagai pertimbangan, dengan berbagai usaha memahamimu demi agar pertanyaan itu tak perlu kulemparkan padamu dan kini, kau jawab dengan luar biasa sempurna: Kenapa tidak?

Sisa tenaga yang nyaris tak ada, membangkitkanku dari kursi. Berdiri begitu tiba-tiba hingga kursi terjengkang menimbulkan bunyi gaduh. Kau kembali mematung. Ingin sekali kuludahi kepalamu, sungguh.

“Aku tidak peduli dengan tubuhku, asal kau tahu. Tubuh ini hanya tempat bersemayam, untuk bisa melihatmu. Kusesalkan, Mario, caramu memandang hubungan kita. Terakhir kali kita bertemu, yang kuingat betul, kau bilang bahwa kau takut kehilangan teman – kehilangan aku! Berkali-kali sudah kau bilang kau bertemu dan berpisah dengan teman yang tak lagi sejalan. Kusesalkan, Mario, kau meninggalkan aku begitu saja tanpa penjelasan apa-apa. Beginikah caramu yang takut kehilangan teman? Bukankah kau yang menghilangkan diri sendiri?”

Mario menatap satu titik di ujung sepatunya. Aku tahu dia mendengarkan, tapi aku tak tahan. Aku menarik bajunya, mengguncang-guncangnya dengan terisak. “Jawab. Jangan seperti tuli dan bisu!”

Tenagaku habis sudah. Bahuku berhenti berguncang. Air mataku mengering. Setelah seminggu terakhir, baru ini tubuhku terasa dua kali lipat tak berdaya. Kusambar tas di atas meja dan sebelum meninggalkan ruangan, kudekati dia.

“Ada yang pernah kutaruh di sini,” ujung jemariku menunjuk dadanya, “mungkin rusak sekarang, hilang, atau bisa jadi tak kau sadari sama sekali keberadaannya.” Aku mendengus, “Yang kutaruh di sana punya nama, Mario. Kau sebut saja rasa percaya.”

Aku berjalan meninggalkannya. Punggungku semakin menjauh dari tempat kami duduk. Lewat pantulan pintu kaca, tepat sebelum kudorong pintu itu, kulihat ia masih duduk di sana, menutup seluruh wajahnya dengan kedua belah tangannya.

Iklan

7 thoughts on “dibuang sayang. sayang kok dibuang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s